Toko Penyewaan Waktu

Toko Penyewaan Waktu
Oleh : Kang Asroh Gong 

Ketika melakukan Perjalanan Bandung Garut  menjengguk ibuku disana yang menujukan waktu 15.00 WIB. Saya Istirahat sejenak untuk menikmati udara pedesaan yang asri dalam perjalanan 4 jam dengan motor jadul suprax honda tahun 1997.  Tidak ada yang tahu persis sejak kapan toko itu berdiri di ujung gang, di antara warung kelontong yang sudah tutup dan tukang jam yang sudah lama pensiun. Papan namanya sederhana, ditulis tangan dengan cat putih yang mulai mengelupas: tertulis "TOKO PENYEWAAN WAKTU — Sewa, Jangan Miliki . Aku sudah lewat gang itu ratusan kali sepanjang hidupku, tapi baru sore itu mataku benar-benar berhenti di papan tersebut, seolah toko itu memang sengaja menunggu waktu yang tepat untuk menampakkan diri.

Hujan turun tanggung-tanggung sore itu, tak cukup deras untuk membuat orang berteduh lama, tapi cukup basah untuk membuat langkah malas melanjutkan perjalanan. Aku mendorong pintu kaca yang berembun, dan lonceng kecil di atasnya berdenting pelan, seperti detik jam yang lelah berjalan.

Di dalam, seorang lelaki tua duduk di balik meja kayu tua, mengenakan jas yang kebesaran, seolah tubuhnya menyusut lebih cepat daripada pakaian yang membungkusnya. Rambutnya putih semua, tapi matanya tajam, seperti pernah menyaksikan terlalu banyak hal untuk bisa terkejut lagi oleh apa pun.

"Selamat datang," katanya, tanpa repot-repot menoleh. "Mau menyewa waktu yang mana?"

Aku mengira dia bercanda, atau mungkin sedang mengigau sendirian. Tapi begitu mataku menyapu ke dinding di belakangnya, aku terdiam. Berjajar rak-rak kecil dari kayu jati tua, masing-masing berisi toples kaca berukuran genggaman tangan. Setiap toples memancarkan cahaya redup dengan warna berbeda-beda—ada yang keemasan seperti sore hari yang malas berakhir, ada yang biru pucat seperti subuh yang belum sepenuhnya bangun, ada pula yang merah jingga seperti senja yang menahan diri untuk tidak segera gelap.

"Toples-toples itu... waktu?" tanyaku, suaraku terdengar lebih kecil dari yang kuinginkan.

"Bukan waktu secara utuh," jawabnya, sambil merapikan letak sebuah toples yang sedikit miring. "Potongan-potongan waktu yang pernah disewa orang lain, lalu dikembalikan dengan jujur. Kau boleh menyewa satu jam kebahagiaan seorang anak kecil yang sudah lama dewasa. Kau boleh menyewa semenit keberanian seorang prajurit yang sudah lama gugur. Semua ada harganya, dan harganya bukan uang."

"Lalu harganya apa?"

"Kesediaan untuk mengembalikannya," katanya, kali ini menatapku lurus-lurus. "Ini toko penyewaan, Nak, bukan toko kepemilikan. Semua yang kausewa, cepat atau lambat, harus dikembalikan ke tempatnya semula. Banyak orang datang ke sini mengira mereka bisa memiliki waktu selamanya. Mereka pulang dengan tangan kosong dan hati yang lebih berat dari sebelumnya."

Aku duduk di kursi rotan tua yang berderit setiap kali aku bergerak, mencoba mencerna semua yang baru saja kudengar. "Kalau begitu, apa gunanya menyewa sesuatu yang pasti akan diambil kembali?"

Lelaki tua itu tersenyum tipis, kerutan di wajahnya bertambah dalam seperti peta sungai yang perlahan mengering. "Justru itu intinya. Semua yang berharga dalam hidup ini adalah sewaan, hanya saja kebanyakan orang lupa membaca kontraknya. Napasmu, sewaan. Umur mudamu, sewaan. Bahkan orang-orang yang kaucintai, mereka juga sedang menyewa waktu untuk bersamamu, sebelum akhirnya dipanggil pulang oleh pemilik yang sesungguhnya."

Aku terdiam cukup lama. Di luar, hujan mulai reda, seolah sengaja memberi jeda untuk percakapan itu berlangsung tanpa gangguan.

"Aku ingin menyewa satu hal," kataku pelan, hampir berbisik. "Aku ingin menyewa waktu bersama ibuku, sebelum ia sakit dulu. Sebelum aku terlalu sibuk mengejar hal-hal yang sekarang bahkan aku lupa apa gunanya."

Lelaki itu berdiri perlahan, tulang-tulangnya seperti berbunyi pelan saat ia bangkit dari kursi. Ia berjalan menuju rak paling atas, mengambil sebuah toples kecil berwarna keemasan pudar, lalu meletakkannya di depanku dengan hati-hati, seolah toples itu bisa pecah hanya oleh napas yang terlalu keras.

"Ini bukan waktu ibumu," katanya, duduk kembali. "Ini waktu milik seorang anak lain, yang juga menyesal terlambat menyadari bahwa kebersamaan dengan orang tuanya adalah sewaan, bukan hak milik abadi. Kau boleh merasakannya sebentar. Tapi camkan baik-baik apa yang kau rasakan di dalamnya, sebab setelah toples ini kau tutup kembali, penyesalan itu akan tetap tinggal di dadamu—dan kaulah yang harus memutuskan mau apa dengan sisa waktu yang masih kaupegang di luar sana."

Tanganku sedikit gemetar saat membuka tutup toples itu. Cahaya keemasan menguar keluar, hangat, seperti sinar matahari yang menembus gorden tipis di pagi hari. Sekejap aku merasa berada di sebuah dapur kecil, mencium bau kopi yang baru diseduh bercampur aroma pisang goreng yang masih panas. Aku mendengar suara seorang perempuan menyanyikan lagu lama sambil menyapu lantai, suaranya sumbang tapi hangat, seperti pelukan yang tak pernah benar-benar kau sadari nilainya sampai ia tak ada lagi.

Aku merasakan rindu yang bukan milikku, tapi terasa begitu nyata, begitu menusuk, seperti sedang meminjam luka orang lain untuk akhirnya mengerti lukaku sendiri. Dalam bayangan itu, aku melihat diriku sendiri—versi yang lebih muda, yang duduk di meja makan sambil sibuk memainkan gawai, tak menghiraukan ibunya yang bercerita tentang tetangga yang baru pindah, tentang harga cabai yang naik, tentang mimpi semalam yang katanya aneh sekali.

Betapa banyak menit seperti itu yang telah kubuang begitu saja, kukira akan selalu ada kesempatan lain, kukira waktu bersama ibu adalah sesuatu yang bisa ditunda tanpa risiko.

Ketika cahaya itu meredup dan aku kembali duduk di kursi rotan yang berderit, air mataku sudah jatuh tanpa sempat kucegah.

"Berapa lama aku boleh menyewanya?" tanyaku, suaraku serak, tenggorokanku terasa panas.

"Kau tidak menyewanya lagi," jawab lelaki tua itu, suaranya melembut. "Waktu itu sudah dikembalikan begitu toples kau tutup kembali. Yang tersisa hanya kesadaran yang kau bawa pulang. Dan kesadaran, Nak, adalah satu-satunya hal dari toko ini yang boleh benar-benar kaumiliki, bukan sewa."

Aku memandangi toples kosong itu lama sekali, lalu memandangi lelaki tua yang tampak semakin transparan di bawah cahaya lampu temaram, seolah dia sendiri sedang menghitung mundur masa sewanya di dunia ini, detik demi detik, tanpa protes, tanpa keluhan.

"Kenapa kau membuka toko ini?" tanyaku akhirnya, penasaran yang tak lagi bisa kutahan.

"Karena dulu aku juga sepertimu," katanya, matanya menerawang ke luar jendela yang basah oleh sisa hujan. "Aku menyangka waktu adalah milikku selamanya. Aku menyangka orang-orang yang kucintai akan selalu ada, seperti perabot rumah yang tak pernah dipindahkan barang sesenti pun. Aku menunda banyak hal—kata maaf, kata terima kasih, kata aku menyayangimu—karena kupikir semua itu bisa diucapkan kapan saja, di lain hari, di waktu yang lebih 'pas'. Baru setelah semua itu diambil kembali oleh pemiliknya yang sesungguhnya, aku sadar: hidup ini toko penyewaan besar, dan kita semua adalah penyewa yang lupa membaca kontrak."

"Apa kau menyesal?"

"Menyesal karena menunda, iya. Tapi tidak menyesal karena pernah menyewa," jawabnya sambil tersenyum, senyum yang entah kenapa membuat dadaku terasa lapang sekaligus sesak bersamaan. "Sebab lebih baik pernah merasakan kehangatan sewaan, daripada tidak pernah merasakan apa-apa sama sekali karena terlalu takut kehilangan."

Ia berjalan pelan ke pintu, membukanya lebar-lebar, membiarkan udara selepas hujan masuk ke dalam ruangan, segar, basah, dan sedikit dingin menyentuh kulit.

"Pulanglah," katanya, menahan pintu agar tetap terbuka untukku. "Temui orang-orang yang masih kausewa waktunya hari ini. Jangan tunggu sampai toples mereka berpindah ke rak-rak ini."

Aku melangkah keluar dengan kaki yang terasa lebih ringan dari saat aku masuk tadi, meski hatiku dipenuhi banyak hal yang belum sepenuhnya bisa kujelaskan. Aku menoleh sekali lagi ke arah toko itu, hendak mengucapkan terima kasih. Tapi papan nama yang tadi kulihat sudah tidak ada di sana. Yang tersisa hanya tembok tua berlumut, dengan sedikit cat putih yang mengelupas, seolah toko itu sendiri hanyalah sesuatu yang disewakan sebentar kepadaku—cukup lama untuk mengajarkan satu hal penting, lalu menghilang sebelum aku sempat benar-benar memilikinya.

Malam itu aku menelepon ibuku, hanya untuk bertanya kabar, hanya untuk mendengar suaranya yang mulai renta menyanyikan potongan lagu lama yang biasa ia dendangkan sambil menyapu lantai dulu. Ia bertanya kenapa tiba-tiba aku menelepon, dan aku hanya menjawab, "Rindu saja."

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku benar-benar mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan—tentang tetangga yang baru pindah, tentang harga cabai yang naik, tentang mimpi semalam yang katanya aneh sekali—seolah aku tahu bahwa panggilan telepon itu pun, pada akhirnya, hanyalah sewaan yang harus kunikmati sepenuh hati, sebelum masanya tiba untuk dikembalikan.                   Bandung Garut, Juli 2026.                                                                                      Bionarasi: Asep Rohmandar Yang Lebih Suka Dipanggil Kang Asroh Gong. Peneliti Mandiri. Lagi Belajar Jadi Tukang tulis. Manusia yang sedang belajar ikhlas bahwa segala yang ada di dunia ini hanya sementara. Bisa dihubungi juga lewat coretan lainnya di 
https://aseprohmandar.blogspot.com/2026/09/riwayat-organisasi-riset-asep-rohmandar.html


Komentar

Postingan populer dari blog ini

INVISIBLE HAND & ASIMETRI DALAM EKONOMI PENDIDIKAN POLITIK :Teori, Praktik, dan Kebijakan

IMF Global Financial Stability Report (Oct 2025): “Shifting Ground beneath the Calm”

Analisis Judul Buku Puisi "Puisi dalam Ekonomi: Untuk Penjual dan Pembeli