Dari Duka Keluarga Menjadi Pancawaluya
Dari Duka Keluarga Menjadi Pancawaluya Di ruang sunyi, duka menetes perlahan, seperti hujan yang kehilangan langitnya, keluarga kami merapat, memeluk luka agar tidak tercerai-berai. Kami menangis dalam diam, menyebut nama dengan getir, namun air mata berubah doa, doa berubah cahaya, cahaya berubah kekuatan. Dari kehilangan lahirlah tekad, dari duka lahirlah janji, bahwa kami tak boleh runtuh, bahwa cinta keluarga harus terus tumbuh. Maka kami genggam lima pilar kehidupan, Pancawaluya, tulang yang menyangga harapan: Pertama, keterbukaan yang jujur, agar luka tidak berulang, agar data dan cerita setiap jiwa tidak terhapus di jalan birokrasi. Kedua, kecepatan yang adil, karena nyawa tak bisa menunggu, karena kasih sayang tak bisa ditunda. Ketiga, akuntabilitas yang terang, supaya salah diakui, supaya benar dihargai, supaya pelayanan menjadi ibadah. Keempat, kolaborasi yang ikhlas, kami bukan pulau yang terpisah, kami adalah jembatan yang saling men...