DAMPAK SUPER EL NIÑO 2026 DAN PELEMAHAN RUPIAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN III DAN IV 2026

DAMPAK SUPER EL NIÑO 2026 DAN PELEMAHAN RUPIAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN III DAN IV 2026

Oleh: Asep Rohmandar

Pendahuluan

Memasuki paruh kedua tahun 2026, perekonomian Indonesia dihadapkan pada dua tekanan yang datang hampir bersamaan: fenomena iklim El Nino yang oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dikonfirmasi telah memasuki kategori kuat, dan pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir Juli 2026. Kombinasi guncangan sisi penawaran (iklim) dan guncangan sisi moneter-eksternal (kurs) berpotensi membentuk pola pertumbuhan ekonomi yang berbeda antara Triwulan I-II 2026 yang relatif kuat dengan Triwulan III-IV 2026 yang diproyeksikan melambat. Esai ini menelaah kedua faktor tersebut secara terpisah maupun interaksinya, dengan bersandar pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), BMKG, Bank Indonesia, serta proyeksi lembaga riset independen seperti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, DBS Bank, dan LPEM FEB UI.

Kondisi Fenomena El Nino 2026: Dari Netral Menuju Kuat

Sepanjang semester pertama 2026, BMKG melaporkan kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral, dengan La Nina lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 baru berakhir pada Februari 2026. Namun pembaruan pemodelan awal Juni 2026 menunjukkan pergeseran signifikan: BMKG memperkirakan peluang El Nino mencapai intensitas moderat sebesar 98 persen dan intensitas kuat sebesar 62 persen, dengan fenomena ini diperkirakan bertahan hingga awal tahun 2027.

Perkembangan terbaru menegaskan tren tersebut. Dalam rapat terbatas bersama Presiden pada 28 Juli 2026, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa kondisi saat ini telah masuk kategori El Nino kuat, dengan potensi memicu musim kemarau yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus (sekitar 49 persen wilayah) dan berlanjut pada September (sekitar 25 persen wilayah), sementara Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini netral diproyeksikan bergerak ke fase positif pada periode September–Desember 2026 — kombinasi yang secara historis memperparah defisit curah hujan di Indonesia.

“Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino Kuat. Jadi kita perlu mengantisipasinya,” — Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, 28 Juli 2026.

Curah hujan pada periode Juli hingga Oktober 2026 diperkirakan berada di bawah rata-rata klimatologis di berbagai wilayah, dengan risiko ikutan berupa kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penurunan kualitas udara, gangguan produksi pangan, serta tekanan terhadap volume tampungan air di bendungan yang berimplikasi pada produksi listrik tenaga air. BMKG turut mengingatkan potensi tekanan inflasi daerah, khususnya melalui jalur harga pangan.

Saluran Transmisi ke Sektor Riil

  • Pertanian dan pangan: penurunan produktivitas tanaman pangan akibat defisit curah hujan berpotensi menekan komponen pertanian, kehutanan, dan perikanan yang pada Triwulan I-2026 masih tumbuh 5,14 persen (yoy).

  • Energi: berkurangnya volume air baku memengaruhi pembangkit listrik tenaga air, menambah biaya operasional dan berpotensi mendorong penggunaan sumber energi alternatif yang lebih mahal.

  • Inflasi pangan bergejolak (volatile food): tekanan harga pangan struktural berisiko menambah momentum inflasi umum, yang pada awal 2026 sempat melampaui kisaran sasaran Bank Indonesia — mencapai 4,76 persen (yoy) pada Februari 2026 sebelum mereda ke 3,47 persen pada Maret.

  • Karhutla dan kualitas udara: berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi lokal, konektivitas transportasi, dan sektor pariwisata di wilayah terdampak.

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah: Tren dan Faktor Pendorong

Sepanjang Juli 2026, rupiah bergerak fluktuatif namun dengan bias pelemahan yang cukup persisten. Pada 13 Juli 2026 rupiah masih berkisar di Rp18.065–Rp18.128 per dolar AS, ditopang cadangan devisa yang tercatat naik menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026. Namun sepanjang paruh kedua bulan tersebut, tekanan meningkat: rupiah sempat menguat ke Rp17.891 pada 21 Juli namun tetap mencerminkan depresiasi sekitar 10 persen dibandingkan setahun sebelumnya, sebelum kembali melemah menembus Rp18.000 pada 27 Juli dan berada pada kisaran Rp18.009–Rp18.073 hingga akhir bulan.

Beberapa faktor domestik dan eksternal bekerja secara simultan. Dari sisi domestik, pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjadi salah satu pemicu utama sentimen negatif pasar terhadap independensi bank sentral, ditambah kekhawatiran atas kondisi fiskal dengan rasio utang pemerintah berkisar 40 persen terhadap PDB. Defisit neraca perdagangan turut menjadi sorotan: pada Mei 2026 Indonesia mencatatkan defisit perdagangan sebesar 1,61 miliar dolar AS, defisit pertama dalam enam tahun terakhir. Dari sisi eksternal, eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran — termasuk gangguan potensial terhadap jalur pelayaran Selat Hormuz — mendorong penguatan dolar AS sebagai aset lindung nilai, diperparah tekanan tarif dagang baru dari pemerintahan Presiden Trump.

Rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 10 persen secara tahunan pada akhir Juli 2026, meski Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen untuk menjaga stabilitas.

Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur Juli 2026 memilih mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen, sebuah keputusan yang ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus tetap mendorong penyaluran kredit dan pertumbuhan sektor riil, meski pasar sempat berekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Interaksi Ganda: Ketika Guncangan Iklim Bertemu Guncangan Kurs

Secara teoretis, El Nino dan pelemahan rupiah bekerja melalui saluran yang berbeda namun dapat saling memperkuat pada sisi inflasi dan daya beli. El Nino menekan sisi penawaran pangan domestik sehingga mendorong kenaikan harga; pada saat yang sama, rupiah yang lemah menaikkan biaya impor pangan, energi, dan bahan baku industri yang sebagian besar masih bergantung pada komponen impor. Kombinasi ini berisiko mendorong inflasi domestik melampaui kisaran sasaran, sebagaimana sempat terjadi pada awal 2026, sekaligus menggerus daya beli riil rumah tangga — padahal konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 52 persen terhadap PDB dan menjadi pilar utama pertumbuhan sepanjang 2025.

Bagi dunia usaha, rupiah yang lemah turut menaikkan beban pembayaran utang berdenominasi dolar serta biaya impor bahan baku dan barang modal, yang berpotensi menahan laju investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) yang pada Triwulan I-2026 justru menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan dengan kenaikan 6,12 persen (yoy). Di sisi lain, ekspor komoditas berbasis rupiah lemah semestinya diuntungkan secara harga, namun perlambatan pertumbuhan ekspor yang tercatat hanya 3,25 persen pada Triwulan I-2026 — jauh melambat dari 9,14 persen pada triwulan sebelumnya — mengindikasikan bahwa manfaat depresiasi terhadap daya saing ekspor belum sepenuhnya terealisasi, kemungkinan tertahan oleh perlambatan permintaan global.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III dan IV 2026

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatatkan tren akselerasi pada penghujung 2025 hingga awal 2026: 5,04 persen pada Triwulan III-2025, naik menjadi 5,39 persen pada Triwulan IV-2025, dan melonjak ke 5,61 persen pada Triwulan I-2026 — capaian tertinggi sejak Triwulan III-2022. Namun momentum ini diperkirakan mulai tertahan memasuki Triwulan II-2026. Core Indonesia memproyeksikan pertumbuhan Triwulan II-2026 hanya berkisar 4,8–4,9 persen, jauh di bawah capaian triwulan sebelumnya, dengan alasan tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, dan ketidakpastian tata kelola fiskal domestik. Sebaliknya, DBS Bank memproyeksikan kisaran yang lebih optimistis yaitu 5,2–5,4 persen untuk periode yang sama, sehingga terdapat rentang ketidakpastian yang cukup lebar di antara lembaga riset.

Periode

Pertumbuhan PDB (%YoY)

Catatan

Triwulan III-2025

5,04%

Baseline sebelum akselerasi akhir tahun

Triwulan IV-2025

5,39%

Tertinggi dalam >3 tahun; didorong stimulus akhir tahun

Full Year 2025

5,11%

Di bawah target pemerintah 5,2%

Triwulan I-2026

5,61%

Tercepat sejak Triwulan III-2022

Triwulan II-2026 (proyeksi)

4,8% – 5,4%

Core Indonesia: 4,8-4,9%; DBS Bank: 5,2-5,4%

Full Year 2026 (proyeksi)

4,9% – 5,4%

Rentang proyeksi Core Indonesia hingga Trading Economics

Tabel 1. Tren dan Proyeksi Pertumbuhan PDB Indonesia (%YoY), Triwulan III-2025 hingga Full Year 2026.

Untuk Triwulan III dan IV 2026, proyeksi resmi granular per-triwulan belum banyak dipublikasikan lembaga riset pada saat esai ini ditulis (30 Juli 2026), mengingat periode tersebut baru akan berlangsung. Namun beberapa indikasi arah dapat ditarik dari proyeksi tahun penuh: Core Indonesia memperkirakan pertumbuhan sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9–5,1 persen — di bawah target pemerintah — sementara Trading Economics mencatat proyeksi pasar yang lebih tinggi di kisaran 5,4 persen. Mengingat puncak musim kemarau dan intensitas El Nino kuat justru terjadi pada Agustus–September (bertepatan dengan Triwulan III), dan efek rambatan pelemahan rupiah terhadap biaya impor serta inflasi umumnya membutuhkan waktu (lag) satu hingga dua triwulan untuk sepenuhnya tertransmisi ke harga domestik, risiko perlambatan paling signifikan secara analitis lebih mungkin terkonsentrasi pada Triwulan III 2026, dengan potensi pemulihan parsial pada Triwulan IV seiring biasanya munculnya faktor musiman permintaan akhir tahun (Natal dan Tahun Baru) yang pada Triwulan IV-2025 terbukti mendorong akselerasi pertumbuhan melalui stimulus konsumsi.

Perlu ditekankan bahwa narasi di atas bersifat analitis berdasarkan pola historis dan indikator terkini, bukan angka resmi BPS untuk Triwulan III dan IV 2026 yang baru akan dirilis masing-masing sekitar awal November 2026 dan awal Februari 2027. Pembaca disarankan memverifikasi data resmi begitu dirilis melalui tautan BPS yang dicantumkan dalam daftar pustaka.

Respons Kebijakan

Pemerintah dan Bank Indonesia telah mengambil sejumlah langkah antisipatif. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen sembari menegaskan komitmen intervensi pasar untuk menstabilkan rupiah, dengan keyakinan inflasi inti tetap berada dalam kisaran sasaran hingga 2027 meski ada risiko kenaikan harga pangan akibat El Nino. Dari sisi mitigasi iklim, BMKG bersama Kementerian Dalam Negeri mendorong kesiapsiagaan lintas sektor melalui penguatan cadangan air, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta percepatan diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga air yang rentan terhadap kekeringan.

Kesimpulan

Perekonomian Indonesia memasuki Triwulan III dan IV 2026 dengan dua tantangan struktural yang saling berinteraksi: El Nino kuat yang menekan sisi produksi pangan dan energi, serta rupiah yang melemah signifikan akibat kombinasi faktor domestik (kekosongan kepemimpinan Bank Indonesia, defisit dagang, tekanan fiskal) dan eksternal (geopolitik Timur Tengah, kebijakan tarif AS). Kedua faktor ini berpotensi menekan daya beli melalui jalur inflasi, sekaligus membebani biaya investasi dan impor bahan baku, sehingga proyeksi pertumbuhan tahun penuh 2026 yang berkisar 4,9–5,4 persen menurut berbagai lembaga cenderung berada di bawah capaian kuat pada Triwulan I-2026. Namun demikian, respons kebijakan moneter yang tetap terjaga serta faktor musiman permintaan akhir tahun berpotensi menahan perlambatan agar tidak berlarut hingga Triwulan IV. Pemantauan data resmi BPS dan BMKG secara berkala tetap menjadi kunci untuk memvalidasi arah proyeksi ini seiring berjalannya waktu.

Daftar Pustaka

[1] ANTARA News. (2026, 14 April). BMKG: Tidak ada indikasi El Nino Godzilla pada 2026. https://www.antaranews.com/berita/5526013/bmkg-tidak-ada-indikasi-el-nino-godzilla-pada-2026

[2] BMKG. (2026, Juni). Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia (Pemutakhiran Juni 2026). https://www.bmkg.go.id/iklim/prediksi-musim/prediksi-musim-kemarau-tahun-2026-di-indonesia-pemutakhiran-juni-2026

[3] BMKG. (2026, 29 Juli). BMKG Perkuat Antisipasi Dampak El Nino 2026, Fokus Jaga Ketersediaan Air dan Cegah Karhutla. https://www.bmkg.go.id/berita/utama/bmkg-perkuat-antisipasi-dampak-el-nino-2026-fokus-jaga-ketersediaan-air-dan-cegah-karhutla

[4] BMKG. (2026, 29 Juni). BMKG Dorong Kesiapsiagaan Lintas Sektor Hadapi Dampak El Nino 2026. https://www.bmkg.go.id/berita/utama/bmkg-dorong-kesiapsiagaan-lintas-sektor-hadapi-dampak-el-nino-2026

[5] CNBC Indonesia. (2026, 18 Juni). BMKG Keluarkan Peringatan Baru: 62% Peluang El Nino 2026 Kategori Kuat. https://www.cnbcindonesia.com/news/20260618143841-4-743785/bmkg-keluarkan-peringatan-baru-62-peluang-el-nino-2026-kategori-kuat

[6] Bisnis.com. (2026, 30 Juli). Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Kamis 30 Juli 2026. https://market.bisnis.com/read/20260730/93/1992216/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-kamis-30-juli-2026

[7] Bisnis.com. (2026, 28 Juli). Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa 28 Juli 2026. https://market.bisnis.com/read/20260728/93/1991549/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-selasa-28-juli-2026

[8] Bisnis.com. (2026, 27 Juli). Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Senin 27 Juli 2026. https://market.bisnis.com/read/20260727/93/1991219/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-senin-27-juli-2026

[9] Bisnis.com. (2026, 24 Juli). Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 24 Juli 2026. https://market.bisnis.com/read/20260724/93/1990652/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-24-juli-2026

[10] Bisnis.com. (2026, 22 Juli). Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 22 Juli 2026. https://market.bisnis.com/read/20260722/93/1989941/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-rabu-22-juli-2026

[11] Bisnis.com. (2026, 14 Juli). Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Selasa 14 Juli 2026. https://market.bisnis.com/read/20260714/93/1987734/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-selasa-14-juli-2026

[12] Bisnis.com. (2026, 13 Juli). Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 13 Juli 2026. https://market.bisnis.com/read/20260713/93/1987508/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-senin-13-juli-2026

[13] Ekonomi.bisnis.com. (2026, 30 Juli). Core Indonesia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II/2026 di Bawah 5%. https://ekonomi.bisnis.com/read/20260730/9/1992143/core-indonesia-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-kuartal-ii2026-di-bawah-5

[14] Infobanknews. (2026). DBS Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5,2–5,4 Persen di Kuartal II 2026. https://infobanknews.com/dbs-proyeksikan-ekonomi-ri-tumbuh-52-54-persen-di-kuartal-ii-2026

[15] LPEM FEB UI. (2026, 8 Mei). Indonesia Economic Outlook Q2-2026 — Pertumbuhan Menyamarkan Ekonomi yang Lemah. https://lpem.org/indonesia-economic-outlook-q2-2026-pertumbuhan-menyamarkan-ekonomi-yang-lemah/

[16] BPS-Statistics Indonesia. (2026, 5 Februari). Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2025. https://www.bps.go.id/en/infographic?id=1218

[17] Trading Economics. Indonesia - Pertumbuhan PDB (y-on-y), 2000-2026. https://id.tradingeconomics.com/indonesia/gdp-growth-annual

[18] The Indonesian Institute. (2026, 11 Mei). Menilik Angka Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026. https://www.theindonesianinstitute.com/menilik-angka-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2026/

[19] Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. (2026, Maret). Ekonomi Indonesia Terkini. https://ekon.go.id/files/ekonomi_terkini/1774507659_Publish%20RED%20Maret%202026_EMF.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMF Global Financial Stability Report (Oct 2025): “Shifting Ground beneath the Calm”

INVISIBLE HAND & ASIMETRI DALAM EKONOMI PENDIDIKAN POLITIK :Teori, Praktik, dan Kebijakan

Analisis Judul Buku Puisi "Puisi dalam Ekonomi: Untuk Penjual dan Pembeli