DESAIN IMPLEMENTASI TATA KELOLA IPOI/MPKD DALAM PENDIDIKAN USIA DINI DI KABUPATEN BANDUNG: KAJIAN KOMPREHENSIF BERBASIS STANDAR PISA

                                                                DESAIN IMPLEMENTASI TATA KELOLA IPOI/MPKD DALAM PENDIDIKAN USIA DINI DI KABUPATEN BANDUNG:

KAJIAN KOMPREHENSIF BERBASIS STANDAR PISA

Penulis : 

Asep Rohmandar1, Wulan Sari Dewi2, Mochamad Nursam3, Oneng4

1. Peneliti NGOs, Kewirausahaan dan Pernah Study di Fakultas Teknik Manajemen Industri STTB/UTB dan FKIP Bahasa Sastra UNINUS Bandung;

2.  Pencari Kerja dan Alumi  FEB UNIBI Bandung; 

3. Pengamat Pendidikan Usia Dini Indonesia;                                                        4. Karyawan Purnawaktu Tenaga Pendukung Akademik (TPA) Di Telkom University Bandung. 

Korespondensi: asrohmandar69@gmail.com  samsejati257@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi strategi pembelajaran IPOI (Inkuiri-Proyek-Observasi-Investigasi) dan MPKD (Model Pembelajaran Kreatif dan Dialogis) pada satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Penitipan Anak (TPA) di Kabupaten Bandung dalam perspektif standar Programme for International Student Assessment (PISA). Metode yang digunakan adalah penelitian campuran (mixed method) dengan desain sequential explanatory pada 45 lembaga PAUD/TPA yang dipilih secara purposive di 10 kecamatan Kabupaten Bandung. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kelas, wawancara mendalam, angket, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) implementasi IPOI meningkatkan kemampuan literasi dasar dan berpikir kritis anak usia 3-6 tahun secara signifikan (p < 0,05); (2) pendekatan MPKD terbukti efektif meningkatkan kompetensi komunikatif dan kolaboratif anak; (3) integrasi kedua strategi tersebut sejalan dengan tiga domain utama PISA, yakni literasi membaca, literasi matematis, dan literasi sains; (4) terdapat kesenjangan (gap) signifikan antara kapasitas guru PAUD tersertifikasi dengan guru non-sertifikasi dalam mengimplementasikan strategi tersebut. Penelitian ini merekomendasikan kebijakan penguatan kapasitas guru PAUD, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, dan kolaborasi multi-pihak antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas lokal.

Kata Kunci: IPOI, MPKD, PAUD, Kabupaten Bandung, PISA, literasi anak usia dini, strategi pembelajaran


ABSTRACT

This study aims to examine the implementation of IPOI (Inquiry-Project-Observation-Investigation) and MPKD (Creative and Dialogical Learning Model) strategies in Early Childhood Education (PAUD) and Daycare (TPA) institutions in Bandung Regency from the perspective of Programme for International Student Assessment (PISA) standards. A mixed-method approach with sequential explanatory design was employed, involving 45 PAUD/TPA institutions purposively selected from 10 sub-districts in Bandung Regency. Data were collected through classroom observations, in-depth interviews, questionnaires, and document analysis. Findings reveal that: (1) IPOI implementation significantly enhances foundational literacy and critical thinking among children aged 3-6 years (p < 0.05); (2) MPKD approach is proven effective in improving communicative and collaborative competencies; (3) integration of both strategies aligns with PISA's three core domains: reading literacy, mathematical literacy, and scientific literacy; (4) significant gaps exist between certified and non-certified PAUD teachers in implementing these strategies. This study recommends policies for strengthening PAUD teacher capacity, competency-based curriculum development, and multi-stakeholder collaboration among local government, universities, and local communities.

Keywords: IPOI, MPKD, PAUD, Bandung Regency, PISA, early childhood literacy, learning strategies


1. PENDAHULUAN

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi kritis dalam pembangunan sumber daya manusia jangka panjang. Riset neurosains dan psikologi perkembangan secara konsisten menunjukkan bahwa 90% perkembangan otak manusia terjadi pada periode usia 0-8 tahun, menjadikan fase ini sebagai jendela emas (golden window) yang berdampak determinatif terhadap kapasitas kognitif, sosial-emosional, dan fisik-motorik sepanjang hayat (Shonkoff & Phillips, 2000; Heckman, 2006).

Di tingkat internasional, Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah menjadi rujukan global dalam mengukur kualitas sistem pendidikan. Hasil PISA 2022 yang dirilis pada Desember 2023 menunjukkan Indonesia memperoleh skor 359 untuk literasi membaca, 366 untuk literasi matematis, dan 383 untuk literasi sains, yang keseluruhannya masih berada di bawah rata-rata OECD (OECD, 2023a). Data yang lebih memprihatinkan adalah lebih dari tiga perempat siswa usia 15 tahun di Indonesia belum memenuhi level kompetensi minimum (Level 2) pada domain matematika dan membaca (OECD, 2023b). Kondisi ini mengindikasikan adanya defisit fundamental yang berakar dari ketidakoptimalan pendidikan pada fase usia dini.

Kabupaten Bandung sebagai salah satu kabupaten terbesar di Jawa Barat dengan populasi lebih dari 3,7 juta jiwa (BPS Kabupaten Bandung, 2024) memiliki tantangan sekaligus peluang yang signifikan dalam pengembangan PAUD berkualitas. Data Pusdatin Kemendikdasmen (2023) mencatat terdapat ribuan satuan PAUD/TPA yang beroperasi di wilayah ini, namun dengan kualitas yang sangat heterogen. Ketimpangan antara PAUD perkotaan dan pedesaan, serta rendahnya kualifikasi akademik pendidik menjadi persoalan struktural yang memerlukan intervensi strategis.

Strategi IPOI (Inkuiri-Proyek-Observasi-Investigasi) dan MPKD (Model Pembelajaran Kreatif dan Dialogis) hadir sebagai respons inovatif terhadap kebutuhan pembelajaran anak usia dini yang holistik, berpusat pada anak, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21. Strategi IPOI mengintegrasikan pembelajaran berbasis inkuiri, proyek, observasi langsung, dan investigasi sederhana; sementara MPKD menekankan kreativitas, dialog Sokrates, dan konstruksi pengetahuan bersama melalui interaksi sosial (Sujiono, 2009; Vygotsky, 1978).

Meskipun kedua pendekatan ini memiliki relevansi teoretis yang kuat, implementasinya di lapangan—khususnya di konteks PAUD/TPA di Kabupaten Bandung—masih belum terdokumentasi secara sistematis dan komprehensif. Penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji secara empiris bagaimana strategi IPOI dan MPKD diimplementasikan, hambatan yang dihadapi, dan kontribusinya terhadap pemenuhan standar kompetensi yang sejalan dengan framework PISA.


1.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini merumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana implementasi strategi IPOI pada satuan PAUD/TPA di Kabupaten Bandung?

  2. Bagaimana efektivitas pendekatan MPKD dalam meningkatkan kompetensi anak usia dini?

  3. Sejauh mana integrasi IPOI dan MPKD sejalan dengan standar kompetensi berbasis PISA?

  4. Apa faktor pendukung dan penghambat implementasi kedua strategi tersebut?


1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mendeskripsikan pola implementasi strategi IPOI dan MPKD di PAUD/TPA Kabupaten Bandung.

  2. Menganalisis efektivitas kedua strategi dalam mengembangkan kompetensi dasar anak.

  3. Mengkaji relevansi implementasi IPOI/MPKD dengan standar PISA.

  4. Merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis bukti untuk peningkatan kualitas PAUD.


2. KAJIAN TEORI DAN LITERATUR

2.1 Strategi IPOI dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Strategi IPOI merupakan pendekatan pembelajaran terpadu yang menggabungkan empat komponen inti: Inkuiri (I), Proyek (P), Observasi (O), dan Investigasi (I). Komponen inkuiri berakar pada tradisi pedagogi John Dewey yang menekankan pembelajaran melalui pengalaman dan pemecahan masalah (Dewey, 1938). Dalam konteks PAUD, inkuiri diadaptasi menjadi eksplorasi terstruktur di mana anak diajak mengajukan pertanyaan, membuat hipotesis sederhana, dan menguji gagasan mereka melalui aktivitas bermain bermakna.

Komponen pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) pada anak usia dini memberikan kesempatan kepada anak untuk mengolah pengetahuannya pada setiap pembelajaran berbasis proyek, serta dapat menstimulus kemampuan anak sehingga dapat meningkatkan kemampuan dalam memecahkan suatu permasalahan (Souisa, Lestari & Yusuf, 2024). Pembelajaran proyek dalam PAUD tidak semata-mata menargetkan produk akhir, melainkan menekankan proses eksplorasi, kolaborasi, dan refleksi yang terjadi selama pengerjaan proyek (Katz & Chard, 1989).

Observasi sebagai komponen ketiga melatih kepekaan sensorik dan kemampuan anak untuk memperhatikan detail lingkungan sekitarnya, yang merupakan fondasi penting bagi perkembangan literasi sains. Sementara investigasi sederhana—yang melibatkan percobaan, pengamatan, dan penarikan kesimpulan dasar—mempersiapkan anak untuk berpikir ilmiah sejak dini (Hasmira, 2023).

2.2 Model Pembelajaran Kreatif dan Dialogis (MPKD)

MPKD berpijak pada landasan konstruktivisme sosial Vygotsky (1978) yang menekankan bahwa perkembangan kognitif anak terjadi melalui interaksi sosial yang dimediasi oleh bahasa dan budaya. Zone of Proximal Development (ZPD) yang diperkenalkan Vygotsky menjadi kerangka utama dalam MPKD, di mana intervensi pendidik diarahkan untuk membantu anak mencapai potensi perkembangan tertinggi mereka melalui scaffolding yang terukur.

Dimensi kreatif dalam MPKD mengacu pada pendekatan Reggio Emilia yang dikembangkan di Italia sejak 1960-an. Pendekatan Reggio Emilia menekankan penggalian potensi anak melalui eksplorasi, kolaborasi, dan kreativitas (Ardina, Sari & Wembrayarli, 2024). Anak dipandang sebagai subjek aktif yang mampu mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui ekspresi multi-modalitas: seni visual, gerak, musik, narasi, dan matematika informal.

Dimensi dialogis dalam MPKD terinspirasi dari pedagogi kritis Paulo Freire (1970) yang menolak model pendidikan 'bank' di mana pengetahuan ditransfer satu arah dari guru ke murid. Sebaliknya, dialog autentik antara pendidik dan anak—yang menghargai pengalaman, pengetahuan, dan perspektif anak—menjadi jantung dari proses pembelajaran. Pertanyaan terbuka, refleksi bersama, dan konstruksi makna kolaboratif menjadi ciri khas pendekatan ini.

2.3 PISA dan Relevansinya dengan Pendidikan Anak Usia Dini

Programme for International Student Assessment (PISA) adalah survei global tiga tahunan yang dilakukan OECD untuk mengukur kompetensi siswa usia 15 tahun pada tiga domain utama: literasi membaca, literasi matematis, dan literasi sains (OECD, 2023a). Meskipun PISA secara langsung mengukur kompetensi siswa jenjang menengah, kerangka konseptualnya—yang menekankan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah kontekstual, dan aplikasi pengetahuan dalam situasi nyata—memiliki relevansi yang kuat sebagai arah pengembangan kompetensi yang perlu dibangun sejak usia dini.

Hasil PISA 2022 Indonesia menunjukkan skor 359 untuk membaca, 366 untuk matematika, dan 383 untuk sains, masih jauh di bawah rata-rata OECD (OECD, 2023a). Meski demikian, Indonesia berhasil meningkatkan peringkatnya 5-6 posisi dibanding PISA 2018, yang merupakan pencapaian tertinggi dalam sejarah partisipasi Indonesia (Kemendikbudristek, 2023). Peningkatan ini dikaitkan dengan implementasi Kurikulum Merdeka dan berbagai program pemulihan pembelajaran pascapandemi.

Para ahli pendidikan anak usia dini secara konsisten berargumen bahwa fondasi kompetensi PISA dibangun jauh sebelum usia 15 tahun. Investasi pada PAUD berkualitas—yang mengembangkan literasi awal, numerasi dasar, rasa ingin tahu ilmiah, dan kecakapan sosial—terbukti secara empiris berkontribusi pada pencapaian akademik jangka panjang (Heckman, 2006; Barnett, 2011).

2.4 Landasan Regulasi

Implementasi strategi IPOI/MPKD di PAUD/TPA memiliki landasan regulasi yang kuat, antara lain:

  • Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Pasal 28 yang mengatur penyelenggaraan PAUD.

  • Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan.

  • Permendikbudristek Nomor 8 Tahun 2024 tentang Standar Isi PAUD pada Kurikulum Merdeka.

  • Permendikbudristek Nomor 47 Tahun 2023 tentang Standar Pengelolaan pada PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.

  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 PAUD.


3. METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed method) dengan desain sequential explanatory, di mana data kuantitatif dikumpulkan dan dianalisis terlebih dahulu, kemudian ditindaklanjuti dengan penggalian data kualitatif untuk menjelaskan hasil kuantitatif secara lebih mendalam (Creswell & Clark, 2018). Pendekatan ini dipilih karena kompleksitas fenomena implementasi strategi pembelajaran di lapangan memerlukan triangulasi antara data numerik (frekuensi, skor, distribusi) dan data naratif (pengalaman, persepsi, konteks).

3.2 Lokasi dan Partisipan

Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada periode September 2024 - Februari 2025. Lokasi dipilih secara purposive dari 10 kecamatan yang merepresentasikan karakteristik geografis dan demografis yang beragam, meliputi daerah perkotaan, pinggiran kota, dan pedesaan.

Partisipan penelitian meliputi 45 satuan PAUD/TPA dengan rincian: 18 Taman Kanak-Kanak (TK), 15 Kelompok Bermain (KB), dan 12 Taman Penitipan Anak (TPA). Total responden terdiri dari 180 guru PAUD/TPA, 45 kepala lembaga, 270 orang tua/wali anak, dan 450 anak usia 3-6 tahun sebagai subjek observasi.

3.3 Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui empat instrumen utama:  Pertama, lembar Observasi Pembelajaran terstruktur berdasarkan indikator implementasi IPOI dan MPKD, yang divalidasi oleh tiga pakar PAUD dari UPI Bandung dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (r = 0,87; p < 0,01). Kedua, Angket Kompetensi Guru (AKG) yang mengukur pemahaman dan praktik strategi IPOI/MPKD terdiri dari 42 item dengan skala Likert 1-5 (alpha Cronbach = 0,89). Ketiga, Panduan Wawancara Mendalam (PWM) semi-terstruktur dengan 25 item pertanyaan terbuka untuk kepala lembaga dan guru senior. Keempat, Penilaian Perkembangan Anak (PPA) menggunakan instrumen yang diadaptasi dari Instrumen Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (ITPPA) yang dikembangkan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK, 2019).

3.4 Teknik Analisis Data

Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif, uji beda (independent sample t-test dan ANOVA), serta analisis regresi berganda dengan bantuan SPSS versi 26. Data kualitatif dianalisis melalui proses koding tematik menggunakan software NVivo 12, mengikuti pendekatan analisis tematik Braun & Clarke (2006). Triangulasi dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, angket, dan wawancara untuk memastikan keabsahan temuan.


4. HASIL PENELITIAN

4.1 Profil Implementasi IPOI di PAUD/TPA Kabupaten Bandung

Analisis terhadap 45 satuan PAUD/TPA menunjukkan variasi yang signifikan dalam tingkat implementasi strategi IPOI. Dari empat komponen IPOI, komponen Observasi (O) memperoleh skor implementasi tertinggi (rata-rata 3,82 dari skala 5), diikuti Proyek (P) dengan skor 3,41, Inkuiri (I) dengan skor 3,12, dan Investigasi (I) dengan skor 2,67.


Tabel 1. Skor Rata-rata Implementasi Komponen IPOI berdasarkan Jenis Lembaga

Jenis Lembaga

Inkuiri (I)

Proyek (P)

Observasi (O)

Investigasi (I)

Taman Kanak-Kanak (TK)

3,45

3,67

4,10

3,01

Kelompok Bermain (KB)

2,98

3,25

3,70

2,45

Taman Penitipan Anak (TPA)

2,92

3,31

3,65

2,55

Rata-rata Keseluruhan

3,12

3,41

3,82

2,67

Sumber: Data Penelitian, 2024/2025 (Skala 1-5)

Temuan ini menunjukkan bahwa TK secara umum memiliki tingkat implementasi IPOI yang lebih tinggi dibandingkan KB dan TPA, yang kemungkinan berkorelasi dengan tingkat kualifikasi pendidik yang lebih baik. Komponen investigasi yang paling rendah skor implementasinya mencerminkan keterbatasan pemahaman guru tentang bagaimana memfasilitasi proses ilmiah sederhana yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini.

4.2 Efektivitas MPKD terhadap Perkembangan Kompetensi Anak

Pengukuran perkembangan anak menggunakan PPA pada awal dan akhir semester menunjukkan peningkatan yang signifikan pada lembaga yang mengimplementasikan MPKD secara konsisten. Hasil uji t menunjukkan perbedaan yang signifikan (t = 4,87; df = 88; p < 0,001) antara skor perkembangan anak pada kelompok yang mendapat intervensi MPKD dibandingkan kelompok kontrol.


Tabel 2. Perbandingan Skor Perkembangan Anak: Kelompok MPKD vs. Kontrol

Domain Kompetensi

Pra-MPKD

Pasca-MPKD

Pra-Kontrol

Pasca-Kontrol

Literasi Bahasa & Komunikasi

62,3

81,7**

61,8

67,2

Numerasi & Logika Dasar

58,1

76,4**

57,9

62,5

Eksplorasi & Sains Dasar

55,7

74,2**

54,9

59,8

Kreativitas & Estetika

67,4

84,1**

66,8

70,3

Sosial-Emosional & Kolaborasi

70,2

86,5**

69,5

73,8

** p < 0,01; Skor dalam skala 0-100. Sumber: Data Penelitian, 2024/2025.

4.3 Relevansi IPOI/MPKD dengan Standar Kompetensi PISA

Analisis pemetaan (mapping analysis) antara komponen-komponen IPOI/MPKD dengan tiga domain utama PISA menunjukkan kesesuaian yang kuat. Framework PISA yang menekankan kemampuan aplikasi pengetahuan dalam konteks kehidupan nyata (applied literacy) memiliki resonansi dengan prinsip pembelajaran berbasis pengalaman dan konteks dalam IPOI/MPKD.


Tabel 3. Pemetaan Komponen IPOI/MPKD dengan Domain PISA

Komponen Strategi

Literasi Membaca (PISA)

Literasi Matematis (PISA)

Literasi Sains (PISA)

Inkuiri (IPOI)

Memahami teks informatif; mempertanyakan sumber

Penalaran logis; estimasi dan kalkulasi informal

Mengajukan pertanyaan ilmiah; hipotesis dasar

Proyek (IPOI)

Memproduksi teks naratif/laporan; literasi multimodal

Pengukuran; pengolahan data sederhana; pola

Perencanaan eksperimen; dokumentasi proses

Observasi (IPOI)

Membaca lingkungan; membaca gambar/simbol

Membandingkan kuantitas; mengenali bentuk

Mengamati fenomena alam; klasifikasi makhluk hidup

Investigasi (IPOI)

Evaluasi dan refleksi informasi

Pemecahan masalah; berpikir komputasional dasar

Menarik kesimpulan; eksperimen sederhana

Kreativitas (MPKD)

Ekspresi kreatif; narasi imajinatif

Pola kreatif; konstruksi spasial

Inovasi solusi; desain sederhana

Dialog (MPKD)

Pemahaman lisan; negosiasi makna

Komunikasi matematis; penjelasan logika

Diskusi ilmiah; argumentasi sederhana

Sumber: Analisis Penelitian berdasarkan OECD (2023a) dan Sujiono (2009).

4.4 Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi

Hasil analisis wawancara mendalam dan observasi mengidentifikasi sejumlah faktor kunci yang memengaruhi keberhasilan implementasi IPOI/MPKD:


Faktor Pendukung:

  • Komitmen kepemimpinan lembaga: Kepala PAUD yang memiliki visi inovatif dan mendukung eksperimentasi pedagogis menjadi katalisator utama implementasi yang berhasil.

  • Kualifikasi dan pengalaman guru: Guru dengan latar belakang S1 PAUD dan pengalaman lebih dari 5 tahun menunjukkan kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam mengadaptasi strategi IPOI/MPKD.

  • Keterlibatan orang tua: Lembaga yang melibatkan orang tua sebagai mitra aktif dalam proses pembelajaran menunjukkan konsistensi implementasi yang lebih baik.

  • Ketersediaan lingkungan belajar yang kaya (rich learning environment): Ruang kelas dengan sudut eksplorasi, bahan manipulatif, dan akses ke alam terbuka mendukung implementasi yang optimal.


Faktor Penghambat:

  • Kesenjangan pemahaman konseptual: Banyak guru yang belum memiliki pemahaman mendalam tentang landasan filosofis dan pedagogis IPOI/MPKD, sehingga implementasinya bersifat superfisial.

  • Keterbatasan waktu pelatihan: Program pelatihan guru PAUD yang tersedia belum secara spesifik mencakup strategi IPOI/MPKD secara komprehensif.

  • Tekanan kurikulum formal: Sebagian orang tua masih mengharapkan pembelajaran akademis formal (calistung) dari usia dini, yang bertentangan dengan prinsip bermain-sambil-belajar dalam IPOI/MPKD.

  • Keterbatasan sarana-prasarana: Lembaga TPA khususnya menghadapi keterbatasan ruang dan bahan pembelajaran yang signifikan.

  • Rendahnya insentif finansial: Upah guru PAUD yang tidak kompetitif berdampak pada tingginya angka pergantian guru (teacher turnover) yang mengganggu kontinuitas implementasi.


5. PEMBAHASAN

5.1 IPOI sebagai Fondasi Kompetensi Abad 21 di PAUD

Temuan penelitian ini mengkonfirmasi relevansi dan efektivitas pendekatan IPOI dalam mengembangkan kompetensi dasar anak yang sejalan dengan tuntutan abad ke-21. Komponen inkuiri yang melatih anak bertanya, mengeksplorasi, dan menguji hipotesis sederhana merupakan benih awal dari scientific literacy yang menjadi salah satu domain utama PISA. Dalam kerangka PISA, scientific literacy didefinisikan sebagai kemampuan untuk terlibat dengan isu-isu terkait sains dan dengan ide-ide sains sebagai seorang warga negara yang reflektif (OECD, 2023a). Fondasi dari kompetensi ini, sebagaimana ditunjukkan berbagai penelitian longitudinal, dibangun sejak masa PAUD melalui pengalaman eksplorasi dan investigasi yang terfasilitasi dengan baik.

Komponen proyek dalam IPOI—yang mendorong perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi atas suatu karya atau kegiatan bermakna—merupakan analog dari problem-solving dan creative thinking yang diukur oleh PISA. Penelitian Souisa, Lestari & Yusuf (2024) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek pada anak usia dini secara signifikan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan kreativitas, dua kompetensi yang semakin mendapat perhatian dalam assessment internasional termasuk PISA 2022 yang untuk pertama kalinya mengukur creative thinking.

Skor implementasi komponen investigasi yang paling rendah (2,67) merupakan indikasi adanya tantangan spesifik yang perlu ditangani. Investigasi ilmiah sederhana—seperti percobaan tenggelam-mengapung, pengamatan pertumbuhan tanaman, atau eksplorasi campuran bahan—memerlukan kompetensi pedagogis khusus dari guru untuk memfasilitasinya secara tepat. Guru perlu mampu mengajukan pertanyaan produktif, menahan diri untuk tidak langsung memberikan jawaban, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan anak menemukan sendiri pola-pola dan hubungan sebab-akibat.

5.2 MPKD dan Pengembangan Dialog sebagai Kompetensi Fundamental

Efektivitas MPKD yang tercermin dari peningkatan signifikan di semua domain perkembangan (p < 0,01) memperkuat argumen bahwa dialog dan kreativitas bukan sekadar komplemen, melainkan inti dari proses pendidikan yang bermakna. Peningkatan paling substansial terlihat pada domain sosial-emosional dan kolaborasi (dari 70,2 menjadi 86,5), yang sejalan dengan penelitian tentang peningkatan perilaku prososial melalui model pembelajaran kolaboratif pada anak usia dini (Surya & Prima, 2026).

Temuan ini memiliki implikasi penting dalam konteks PISA. Meskipun PISA tidak secara langsung mengukur kompetensi sosial-emosional, riset terkini menunjukkan bahwa kompetensi sosial-emosional memiliki hubungan yang kuat dengan literasi dan numerasi. Anak yang mampu berkolaborasi, berempati, dan berkomunikasi efektif cenderung lebih terbuka terhadap pembelajaran dan lebih mampu memanfaatkan interaksi sosial sebagai sumber pengetahuan—suatu karakteristik yang sangat relevan dengan cara PISA mengkontekstualisasikan soal-soalnya dalam situasi kehidupan nyata.

5.3 Implikasi Kebijakan

Kesenjangan implementasi yang teridentifikasi antara TK, KB, dan TPA—serta antara guru tersertifikasi dan non-sertifikasi—mengisyaratkan perlunya intervensi kebijakan yang tertarget. Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK, 2019) telah menggarisbawahi bahwa investasi pada peningkatan kapasitas guru PAUD merupakan intervensi yang paling cost-effective dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Program pelatihan berkelanjutan (continuous professional development) yang menargetkan strategi IPOI/MPKD secara spesifik perlu dikembangkan dengan mengadopsi format yang kontekstual, berbasis praktik, dan memanfaatkan komunitas belajar guru (professional learning communities).

Kebijakan perluasan Program Indonesia Pintar (PIP) ke jenjang PAUD pada tahun 2026 merupakan langkah yang strategis (Kemendikdasmen, 2026). Namun, subsidi finansial perlu diimbangi dengan investasi pada peningkatan kualitas pembelajaran. Pengalaman negara-negara dengan skor PISA tertinggi—seperti Singapura, Estonia, dan Finlandia—menunjukkan bahwa kualitas guru adalah variabel tunggal yang paling menentukan kualitas output pendidikan.


6. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1 Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa:

  1. Strategi IPOI diimplementasikan dengan tingkat yang bervariasi di PAUD/TPA Kabupaten Bandung, dengan komponen Observasi paling dominan dan komponen Investigasi yang masih perlu penguatan.

  2. MPKD terbukti efektif secara signifikan dalam meningkatkan lima domain perkembangan anak (literasi bahasa, numerasi, sains dasar, kreativitas, dan sosial-emosional) dibandingkan kelompok kontrol.

  3. Integrasi IPOI/MPKD memiliki kesesuaian konseptual dan empiris yang kuat dengan tiga domain utama PISA (literasi membaca, matematis, dan sains), menjadikannya sebagai strategi yang relevan untuk membangun fondasi kompetensi yang diukur PISA.

  4. Kesenjangan implementasi dipengaruhi oleh kualifikasi guru, kepemimpinan lembaga, ketersediaan sarana-prasarana, dan budaya belajar komunitas.


6.2 Rekomendasi

Berdasarkan temuan penelitian, direkomendasikan:

  • Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung perlu mengembangkan modul pelatihan IPOI/MPKD yang kontekstual dan berbasis praktik, dengan format pendampingan langsung di kelas (in-class coaching).

  • Perguruan tinggi LPTK perlu mengintegrasikan strategi IPOI/MPKD secara lebih eksplisit dalam kurikulum Program Studi PG-PAUD, termasuk melalui praktikum lapangan yang terstruktur.

  • Pemerintah daerah perlu meningkatkan investasi pada sarana-prasarana PAUD, khususnya bahan belajar berbasis alam dan lingkungan yang mendukung komponen observasi dan investigasi IPOI.

  • Perlu dikembangkan sistem mentoring antara guru TK berpengalaman dengan guru KB dan TPA melalui komunitas belajar lintas lembaga untuk mempercepat diseminasi praktik baik.

  • Penelitian longitudinal yang mengikuti perkembangan anak dari PAUD hingga pendidikan dasar perlu dilakukan untuk memvalidasi kontribusi jangka panjang IPOI/MPKD terhadap pencapaian akademik.


UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini didukung oleh Surya Bima Berlian Group (SBBG) Bandung. Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh kepala lembaga, guru, orang tua, dan anak-anak di 45 satuan PAUD/TPA yang bersedia menjadi partisipan penelitian ini, serta kepada tim reviewer yang memberikan masukan konstruktif.


DAFTAR PUSTAKA

Ardina, M., Sari, D. L., & Wembrayarli. (2024). Strategi pembelajaran inovatif PAUD: Pendekatan Reggio Emilia. Prosiding Seminar Nasional PG-PAUD UNIB, Bengkulu, 9 Mei 2024.

Barnett, W. S. (2011). Effectiveness of early educational intervention. Science, 333(6045), 975–978. https://doi.org/10.1126/science.1204534

Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung. (2024). Kabupaten Bandung Dalam Angka 2024. BPS Kabupaten Bandung.

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa

Creswell, J. W., & Clark, V. L. P. (2018). Designing and conducting mixed methods research (3rd ed.). SAGE Publications.

Dewey, J. (1938). Experience and education. Macmillan.

Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. Herder and Herder.

Hasanah, L., Alfilail, S. N., Rahmawati, R., Khairunnisa, A., & Munawaroh, S. (2024). Ragam model pembelajaran pendidikan anak usia dini. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2), 19316–19330. https://doi.org/10.31004/jptam.v8i2.15234

Hasmira, H. (2023). Model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran anak usia dini. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(6), 3834–3839. https://doi.org/10.54371/jiip.v6i6.2097

Heckman, J. J. (2006). Skill formation and the economics of investing in disadvantaged children. Science, 312(5782), 1900–1902. https://doi.org/10.1126/science.1128898

Katz, L. G., & Chard, S. C. (1989). Engaging children's minds: The project approach. Ablex Publishing.

Kemendikbudristek. (2023). Hasil PISA 2022: Peningkatan ranking Indonesia 5-6 posisi dibandingkan 2018. Siaran Pers Kemendikbudristek, 5 Desember 2023.

Kemendikdasmen. (2026). Program Indonesia Pintar diperluas ke jenjang PAUD tahun 2026. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Nursholichah, K. U., & Hibana, H. (2024). Ragam model pembelajaran pada pendidikan anak usia dini. Journal of Education Research, 5(3), 4036–4040. https://doi.org/10.37985/jer.v5i3.1313

OECD. (2023a). PISA 2022 Results (Volume I): The state of learning and equity in education. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/53f23881-en

OECD. (2023b). PISA 2022 Results (Volume II): Learning during – and from – disruption. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/a97db61c-en

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. (2014). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 47 Tahun 2023 tentang Standar Pengelolaan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. (2023). Kemendikbudristek.

Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 8 Tahun 2024 tentang Standar Isi PAUD pada Kurikulum Merdeka. (2024). Kemendikbudristek.

Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK). (2019). Strategi pendidikan anak usia dini: Rancangan kebijakan untuk meningkatkan kualitas PAUD di Indonesia. PSPK.

Pusdatin Kemendikdasmen. (2023). Statistik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun 2023/2024. Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Shonkoff, J. P., & Phillips, D. A. (Eds.). (2000). From neurons to neighborhoods: The science of early childhood development. National Academy Press.

Souisa, F. C., Lestari, G. D., & Yusuf, A. (2024). Penerapan model pembelajaran project based learning pada anak usia dini. Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1). https://doi.org/10.37985/murhum.v5i1.616

Sujiono, Y. N. (2009). Konsep dasar pendidikan anak usia dini. PT Indeks.

Surya, S. G. I., & Prima, E. (2026). Peningkatan perilaku prososial anak usia dini melalui implementasi model pembelajaran kolaboratif dalam kegiatan kelompok terstruktur. Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. https://doi.org/10.37985/murhum (in press)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (2003). Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.                                                                                    Conflict of Interest Statement: Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian ini.


Funding: Penelitian ini didanai secara mandiri oleh  para penulis.

Ethical Approval: Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Lokal. 

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada  semua stakeholder Pemerintah Kabupaten Bandung. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMF Global Financial Stability Report (Oct 2025): “Shifting Ground beneath the Calm”

Analisis Judul Buku Puisi "Puisi dalam Ekonomi: Untuk Penjual dan Pembeli

17 Program SDGs PBB Terganggu, Akibat Kebijakan Resiprokal Tarif AS