Dampak Revolusi Industri dan Revolusi Teknologi terhadap revolusi ekonomi

Dampak Revolusi Industri dan Revolusi Teknologi terhadap revolusi ekonomi, khususnya pada Negara Ketiga (negara berkembang) dan Dunia Keempat (kelompok yang tertinggal/marginal), sering kali bersifat negatif karena memperparah ketimpangan dan ketergantungan.
Berikut adalah penjelasan mengenai dampak negatif tersebut, didukung bukti data dan fakta:
1. Kesenjangan Digital dan Ketimpangan Ekonomi Global 🌐
Revolusi Teknologi (Industri 4.0) menciptakan Kesenjangan Digital yang masif antara negara maju dan negara berkembang, yang pada gilirannya memperlebar jurang ekonomi.
Data & Fakta
 a. Kesenjangan Akses dan Biaya: Negara maju memiliki penetrasi internet berkecepatan tinggi yang merata dengan biaya relatif rendah, sementara negara berkembang seringkali menghadapi infrastruktur digital yang belum merata dan biaya akses yang mahal.
   b. Contoh Kasus (ASEAN): Sebuah studi menunjukkan kesenjangan digital yang lebar antara Singapura dan Indonesia/Myanmar, di mana biaya langganan internet di beberapa negara berkembang jauh lebih tinggi relatif terhadap pendapatan penduduknya (misalnya, di Myanmar, biaya akses internet dapat mencapai 182% dari pendapatan, merujuk data historis perbandingan biaya akses).
 c. Ketimpangan Keterampilan (Digital Skills Gap): Tenaga kerja di Negara Ketiga didominasi oleh pekerja dengan keterampilan digital rendah, yang menghambat kemampuan negara tersebut untuk mengambil manfaat penuh dari ekonomi digital.
  d. Data Keterampilan: Di Indonesia, riset SMERU (2022) mengindikasikan bahwa sebagian besar pekerja hanya memiliki keterpaparan kecil terhadap teknologi digital sederhana, sementara kurang dari 1% pekerja memiliki keterampilan digital tingkat lanjut (advanced).
Dampak Negatif
 e. Ketergantungan Teknologi: Negara berkembang cenderung menjadi pasar bagi teknologi dan platform digital yang dikembangkan oleh negara maju, alih-alih menjadi produsen, yang memperkuat ketergantungan ekonomi.
 f. Pembaruan Birokrasi: Wilayah dengan literasi digital rendah rawan mengalami maladministrasi ketika pemerintah memaksakan penerapan layanan publik digital (e-governance), karena masyarakat dan penyedia layanan tidak siap.
2. Otomatisasi dan Disrupsi Pasar Kerja Massal 🤖
Kedua revolusi, tetapi terutama Revolusi Teknologi (Otomatisasi, AI, Robotika), mengancam pekerjaan padat karya yang menjadi tulang punggung industrialisasi di banyak Negara Ketiga.
Data & Fakta
 1. Ancaman Otomatisasi pada Pekerjaan Rutin: Pekerjaan yang bersifat rutin, manual, dan berketerampilan rendah hingga menengah, seperti operator mesin dan pekerja perakitan pabrik, sangat rentan digantikan oleh robot dan AI di era Industri 4.0.
  2. Implikasi Negara Berkembang: Banyak Negara Ketiga mengandalkan upah buruh yang rendah sebagai daya tarik investasi asing di sektor manufaktur. Otomatisasi menghilangkan keunggulan komparatif ini, menyebabkan pabrik-pabrik padat modal cenderung berinvestasi pada teknologi alih-alih penyerapan tenaga kerja lokal dalam skala besar.
 3. Kesenjangan Pendapatan Internal: Otomatisasi cenderung memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar kepada perusahaan besar dan pekerja berpendidikan tinggi yang mengoperasikan teknologi, memperlebar kesenjangan antara kelompok ini dengan pekerja berpendidikan rendah.
  4. Kutipan Relevan:
     "Otomatisasi cenderung memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar kepada perusahaan besar dan pekerja berpendidikan tinggi, yang dapat memperlebar kesenjangan antara kelompok-kelompok ini dengan pekerja berpendidikan rendah." (Sumber: Analisis Dampak AI dan Otomatisasi)
     
Dampak Negatif
 a. Pengangguran Struktural: Terjadi peningkatan pengangguran struktural karena pekerja lama tidak memiliki keterampilan yang relevan untuk pekerjaan baru yang diciptakan oleh teknologi.
 b. Peningkatan Urbanisasi dan Kemiskinan Kota: Revolusi Industri awal memicu urbanisasi. Di era teknologi, jika kota tidak mampu menyediakan pekerjaan digital yang memadai, arus migrasi ini dapat menyebabkan peningkatan angka kemiskinan dan ketimpangan perekonomian regional (antara kota besar dan daerah).
3. Dampak Lingkungan dan Eksploitasi Sumber Daya 🏭
Revolusi Industri awal, yang mendorong industrialisasi besar-besaran, memiliki dampak negatif yang terus dirasakan hingga saat ini, terutama di wilayah yang kurang memiliki regulasi ketat (seringkali Negara Ketiga).
Data & Fakta
 a. Pencemaran Lingkungan: Semakin tingginya kegiatan produksi manufaktur (terutama pada Revolusi Industri 1.0 dan 2.0) berbanding lurus dengan tingginya pembuangan limbah yang mengancam lingkungan hidup secara global (pencemaran udara, air, dan tanah).
Dampak Negatif
 b. Degradasi Lingkungan: Negara-negara berkembang sering menjadi lokasi pabrik dengan standar lingkungan yang lebih rendah atau menjadi tempat pembuangan limbah elektronik dari negara maju, memperburuk masalah polusi dan kerusakan ozon lokal.
 c. Eksploitasi: Negara Ketiga, sebagai penyedia bahan mentah, tetap rentan terhadap model perdagangan yang tidak adil, di mana sebagian besar nilai tambah hasil produksi tetap berada di negara-negara industri maju.
Untuk pemahaman lebih lanjut mengenai dampak revolusi industri 4.0, Anda bisa menonton video REVOLUSI INDUSTRI 4.0 4: Dampak Buruk & Baik yang Muncul dari dosen FEB UI.

Bandung, My Home, 4 Nopember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMF Global Financial Stability Report (Oct 2025): “Shifting Ground beneath the Calm”

Kimbab, Mau Ngak Tuh ?

Mau Ngekost, Di Berlian House Aja yuk 🏠